• header
  • header
  • header
  • header
  • welcome
  • web 2 gold
  • web 2 white

Selamat Datang di Website Resmi SMA NEGERI 1 TAMPAKSIRING | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 TAMPAKSIRING

NPSN : 50102082

Jl.Pucak Tegeh Manukaya Tampaksiring 80552 Telp (0361) 901957 Fax (0361) 902271


taksuinfo@gmail.com / info@sman1tampaksiring.sch.id

TLP : (0361) 901957


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda tentang Kurikulum Merdeka?
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 475696
Pengunjung : 161307
Hari ini : 105
Hits hari ini : 248
Member Online : 3
IP : 44.192.20.240
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Sejarah Hari Ibu




SEJARAH HARI IBU

Penghargaan atas Peran dan Kemuliaan Seorang Ibu Sejati

 

Sebagaimana dikutip pada Wikipedia, Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap

peran ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.  

 Sejarah Hari Ibu merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan

pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres Perempuan ini diadakan di sebuah

gedung Dalem Joyodipuran milik Raden Tumenggung Joyodipero yang menampung sekitar 30

organisasi wanita yang tersebar di Jawa dan Sumatera. Tujuan diadakannya Kongres

Perempuan Indonesia I adalah untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita

Indonesia. Selain itu, tujuan diadakannya kongres ini untuk menyambung pertalian antara

perkumpulan-perkumpulan wanita Indonesia. 

Kongres Indonesia Perempuan Saya melahirkan dua hal besar yang berdampak bagi kehidupan

perempuan Indonesia, yaitu : 

1. Muncul keinginan untuk membentuk organisasi yang solid dengan hadirnya “Perserikatan

Perempuan Indonesia (PPI)”. 

2. Melahirkan tiga mosi yang merajuk pada kemajuan perempuan, seperti tuntutan penambahan

sekolah rendah untuk perempuan, perbaikan aturan dalam pernikahan, perbaikan aturan

mengenai dukungan janda dan anak yatim. 

Meski mengacu pada Kongres Perempuan I, penetapan Hari Ibu 22 Desember baru menandai

Kongres Perempuan III yang diadakan di Bandung pada tanggal 23-27 Juli 1938. Kemudian

Hari Ibu tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari nasional melalui Dekrit Presiden No.

316 tahun 1959.  

Hari Ibu juga bisa dijadikan refleksi pelajar, sebagai momentum perenungan atas semua bakti

yang sudah diberikan kepada orang tua terutama kepada ibunya. Pelajar harus memahami

bahwa perjuangan dan jasa ibu yang tidak tergantikan dalam mengandung, melahirkan dan

membesarkan serta mendidik mereka sejak kecil. Karena sebagai insan yang beragama, pasti

mewajibkan untuk senantiasa berbakti kepada orang tua.  

Walaupun di beberapa tempat di masyarakat kita, Hari Ibu biasanya dirayakan dengan 

membebas tugaskan seorang ibu dari pekerjaan di rumah, serta memberikan ucapan terima

kasih dengan memberikan para ibu bermacam hadiah, dan lain sebagainya. Selayaknya

  • berbakti kepada ibu dilakukan tidak hanya pada Hari Ibu saja melainkan sepanjang waktu. (ditulis oleh: Julianingsih, Ni Wayan - XII IPA 6- Ekstra Jurnalistik 2023 – dari berbagai sumber)




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas